#CreatioExMateria #BukanCreatioExNihilo
Alkitab LAI_TB (1974), Kejadian 1:1-3, "...kosong..." lebih mengarahkan orang pada doktrin creatio ex nihilo.
Alkitab LAI TL (1958, ada yang menyebutkan thn 1954), Kejadian 1:1-3, "...campur baur ...", dan ALkitab LAI BIS (1985), Kejadian 1:1-3 "... kacau balau..." lebih mengarahkan orang pada ide creatio ex materia. Di mana, materi yang dimaksud adalah materi sebelum-penciptaan yang dilihat sebagai ada-yang-kacaubalau (Chaos). Lihat tafsiran E. Gerrit Singgih dalam bukunya, Dua Konteks dan Dari Eden ke Babel.
Secara tafsir saya mendukung Gerrit Singgih dengan perbedaan pada samudera yang menurut saya lebih tepat menunjukkan bergeloranya (sebagaimana terjemahan Alkitab LAI BIS). Secara struktur kalimat, saya mendukung Robert Alter, dalam bukunya The Hebrew Bible: A Translation with Commentary. Jadi, ayat 1 itu keterangan waktu dan ayat 2 itu anak kalimat yang menjelaskan keberadaan yang chaos serta roh Allah yang mempersiapkan jalan penciptaan di ayat ke-3 (sebagai pernyataan utama).
Chaos sekalipun perlu ditata, mungkin tidak perlu dilihat sebagai jahat pada dirinya sendiri. Chaos dalam ketegangan dengan penciptaan akan melahirkan kreativitas yang melahirkan yang baru.
...
https://www.youtube.com/watch?v=kFwON7w_bRw
#MaafygTanpaALLAH
Masyarakat kita sekarang ini sudah terbiasa dengan ungkapan: "Saya memaafkan dia, tetapi proses hukum tetap berjalan". Rasa-rasanya, itu ungkapan yang wajar dan biasa-biasa saja.
Dalam video ini, saya mengungkapkan bahwa ungkapan itu dilandasi oleh semangat balas dendam untuk melanggengkan kekerasan. Ungkapan itu hanya ingin melestarikan kekerasan tanpa memberikan ruang alternatif.
Saya melihat, maaf yang melanggengkan kekerasan ini sebagai wujud "maaf yang tanpa ALLAH", maaf yang tanda dilandasi oleh nilai-nilai agama atau nilai ketuhanan. Maaf sudah begitu sekuler. Jadi, kita yang mengklam sebagai orang beragama tetapi hidup tanpa nilai-nilai agama.
Kalau kita hidup dengan nilai agama, atau sebagaimana dalam nilai agama Kristen, maka kata maaf itu mesti dilandasi oleh ANUGERAH ALLAH dan KUASA ALLAH dalam memberdayakan kita untuk melakukan perbuatan baik. Dengan kuasa dari ALLAH, maka kita dapat memaafkan seseorang/musuh kita dengan tulus. Kalau kita mengandalkan kemampuan perbuatan baik kita saja, maka kita akan mudah stres dan kehabisan energi.
Mungkinkah kita mengatakan MAAF dari lubuk kerohanian atau ke-iman-an kita? Mungkinkah mereka yang kita rasa menghina agama kita dapat kita maafkan berdasarkan keimanan kita? MAAF. TITIK. (tanpa proses hukum dilanjutkan).
Bahkan, jika seseorang yang kita anggap bersalah tidak meminta maaf, mungkinkah kita memaafkan dia dengan tulus (tanpa semangat balas dendam lagi)?
...
https://www.youtube.com/watch?v=WW-zIepKaVA
#UmatHafalan #UmatTerjemahan #Dekonstruksi
Sumber:
Channel Verbum Veritatis
https://www.youtube.com/watch?v=eQtf7xmJnGs
Muhammad in Muhammad: Nandar (Kainama) & "Etmak" (Yes. 42:1)
Channel TANPARAGI
https://www.youtube.com/watch?v=yRsJk8lLzKk
Nubuat tentang Muhammad di Yesaya membuktikan ALQURAN SALAH - Thanks Channel Rabbanians Id
...
https://www.youtube.com/watch?v=_wJkYhYk8Fo
#TafsirSatanik #AgusWiyanto #EsraSoru
Beberapa kesalahan tafsir Agus Wiyanto (Islam Care):
1. Cerdik diartikan licik-menipu. Yang betul: Cerdik berarti tidak bisa ditipu
Cerdik dari kata Yunani: phronimos berarti cerdik/bijaksana, dipakai juga dlm Matius 7:24 "Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya (poieo), ia sama dengan orang yang bijaksana (phronimos), yang mendirikan rumahnya di atas batu.
Ahli Taurat & orang Farisi, dengar/tahu tapi tidak melakukan (Matius 5:19-20 dan Matius 23), dan ini masuk kategori orang jahat. Luar baik, dalam hati jahat. Ini menipu. Untuk Ahli Taurat & orang Farisi, cerdik adalah licik menipu. Ini adalah cerdiknya ular beludak Matius 23:33 “Hai kamu ular-ular, hai kamu keturunan ular beludak!”.
Cerdik berarti tidak bisa ditipu oleh orang jahat-penipu sejenis “Ahli Taurat & orang Farisi” ini.
Jadi, cerdik ular beludak Ahli Taurat & orang Farisi adalah licik-menipu; sedangkan cerdik ular murid-murid adalah tidak bisa ditipu.
2. Ular dipisah dari Merpati. Yang betul: Cerdik-Ular dan Tulus-Merpati satu kesatuan
Tulus dari kata Yunani: akeraios berarti tulus, bersih, tiada bernoda. Dan merpati (peristera) adalah simbol Roh Allah. Mat 5:8 “Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah.” Ini gambaran hati yang bersih. Dalam Matius, hati itu penting sekali, karena hati yang bersih ini adalah tempat perjumaan dengan Allah.
Dalam Matius 5-7 (Kotbah di Bukit), kita menemukan ide membunuh dari dalam hati, berzinah dari dalam hati, dan ungkapan, “Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu”. Berdoa, bersedekah, itu semua dilakukan dari dalam hati.
Hati yang bersih yang menikmati perjumaan dengan Allah ini lah yang menjaga kecerdikan yang lihai melawan penipuan si munafik-jahat Ahli Taurat & orang Farisi.
Beda sekali dengan Ahli Taurat & orang Farisi yang hatinya kotor dan kecerdikannya untuk menipu orang lain (baca Matius 23).
3. Ular sama dengan Setan. Yang betul: Ular ya Ular
Dasar Alkitabnya Wahyu 12:9 12:9 “Dan naga besar itu, si ular tua, yang disebut Iblis atau Satan, yang menyesatkan seluruh dunia, dilemparkan ke bawah; ia dilemparkan ke bumi, bersama-sama dengan malaikat-malaikatnya.”
Agus tidak sadar bahwa ular tua itu adalah NAGA BESAR. Dan konsep naga besar tidak ada sama sekali dalam Matius. Yang ada dalam Matius adalah ular berbisa dalam arti yang licik-menipu, dan ular tidak berbisa dalam arti cerdik-takbisa-ditipu.
Kemudian, Agus juga tidak sadar bahwa dalam Kejadian 3, tidak ada NAGA BESAR DI DARAT, yang ada dalam kitab Kejadian adalah NAGA BESAR DI LAUT (Baca: Kisah Penciptaan pada hari Kelima). Akibat ketidaksadaran ini, Agus memberi kita gambaran yang lucu sekali di mana Hawa berbicara dengan NAGA BESAR. Bisa saudara-sauda
...
https://www.youtube.com/watch?v=VmYm-1Jn6k0